TUGAS MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
MENGENAI KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR
DALAM KESUSASTRAAN

SITI PUJIANTI, M.HUM
ANNISAA NUR EKAPUTRI
10517862
1PA03
UNIVERSITAS GUNADARMA
JALAN MARGONDA RAYA 100, DEPOK
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.....................................................................
i
DAFTAR
ISI..................................................................................
ii
BAB
1 PENDAHULUAN..............................................................
1
A. Latar
Belakang.......................................................................
1
B. Rumusan
Masalah..................................................................
2
C. Tujuan....................................................................................
2
BAB
II PEMBAHASAN................................................................
3
A. Hakikat
dari Konsepsi IBD dengan Kesusastraan..................
3
B. Keterkaitan
antara Kesusastraan dengan Prosa.....................
9
C. Nilai
yang termasuk Prosa Fiksi..........................................
14
D. Contoh
IBD yang termasuk kedalam Fiksi.........................
15
BAB
III PENUTUP......................................................................
16
A. Kesimpulan...........................................................................
16
DAFTAR
PUSTAKA...................................................................
17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ilmu budaya
dasar adalah suatu ilmu yang mempelajari dasar-dasar dan pengertian
tentang konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan.
Mengkaji dalam artian disini adalah belajar, menyelidi, atau menguji
masalah-masalah terkait kebudayaan. Kebudayaan juga berasal dari kata budaya. Budi, yang berarti akal atau pikiran, sedangkan daya berarti perilaku atau tingkah laku
manusia. Jadi, yang dinamakan kebudayaan adalah kita mempelajari tentang
seluk-beluk tingkah laku, akal, atau moral manusia dalam keseluruhan. Hal ini
juga berkaitan dengan ilmu kebudayaan sendiri yang mempelajari kedua hal
tersebut, yaitu akal dan perilaku pada manusia. Ilmu kebudayaan inilah yang
akhirnya berkembang didalam suku bangsa Indonesia menjadi timbulnya
peraturan-peraturan baru. Mulai dari peraturan
lama, peraturan baru, atau pun peraturan dari nenek moyang semuanya pun
ada karena adanya kelompok tertentu yang masih mempertahakan peraturan tersebut.
Peraturan-peraturan tersebut kemudian berubah menjadi adat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adat adalah aturan
(perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala.
Nah, maka dari situlah timbulnya Budaya. Timbulnya budaya ini juga merupakan proses
lama, dari zaman nenek moyang sampai pada zaman modern ini. Pada zaman modern
ini, sistem budaya telah banyak mengalami pergeseran-pergeseran nilai-nilai
dari yang sebenarnya. Melalui ilmu Budaya Dasar dalam Kesustraan, Pendekatan
kesusastraan yang dihubungkan dengan prosa, nilai-nilai dalam prosa fiksi, dan
Ilmu Budaya Dasar yang dihubungkan dengan fiksi diharapkan mahasiswa dapat
lebih memahami dan dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian
tersebut, dapat diuraikan sebagai berikut :
1)
Apa hakikat dari konsepsi Ilmu Budaya
Dasar dalam Kesustraan ?
2)
Bagaimana keterkaitan antara
Kesusastraan dengan Prosa ?
3)
Nilai apa saja yang termasuk dalam Prosa
Fiksi ?
4)
Contoh Ilmu Budaya Dasar apa saja yang
termasuk kedalam Fiksi ?
1.3 TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan
masalah di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan penulisan sebagai
berikut :
1.
Mahasiswa dapat memahami konsep Ilmu
Budaya Dasar.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui keterkaitan
antara Kesusastraan dengan Prosa.
3.
Mahasiswa dapat mencontoh nilai-nilai
baik yang terdapat didalam Prosa Puisi.
4.
Mahasiswa dapat menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam kebudayaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 HAKIKAT DARI KONSEPSI ILMU BUDAYA
DASAR DENGAN KESUSASTRAAN
Pengertian
Imu Budaya
Ilmu Budaya Dasar
secara sederhana adalah pengetahuan yang diharapkan mampu memberikan
pengetahuan dasar dan umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk
mengkaji masalah manusia dan kebudayaan . Suatu karya dapat saja mengungkapkan
lebih dari satu masalah, sehingga ilmu budaya dasar bukan ilmu sastra, ilmu
filsafat ataupun ilmu tari yang terdapat dalam pengetahuan budaya, tetapi ilmu
budaya dasar menggunakan karya yang terdapat dalam pengetahuan budaya untuk
mengkaji masalah nilai-nilai manusia sebagai mahluk berbudaya (homo humanus).
Sedangkan ilmu budaya dasar bukan ilmu tentang budaya, melainkan mengenai
pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep.
Ilmu Budaya dasar
mengajarkan pembelajaran mengenai konsep-konsep kehidupan dan budaya manusia,
sedangkan kesusastraan adalah penguraian atas konflik yang digunakan untuk
mencapai suatu hasil yang dikatakan bahwa keindahan atau nilai estetis suatu
cipta sastra timbul karena adanya keserasian, kesepadanan, atau keharmonisan
antara isi. Jadi intinya kesusastraan membuat pencerahan atas konflik
mengenai konsep-konsep kehidupan dan budaya manusia dengan membawa nilai
estetis yang baik dan menimbulkan keserasian bersama.Namun Ilmu
Budaya Dasar (yang dahulu di sebut sebagai Basic Humanities) berasal dari
bahasa latin yang di sebut dengan “humanus”, yang memiliki arti manusiawi,
berbudaya, dan halus. Pada umumnya, humanities mencakup filsafat, teologi,
seni, dan cabang-cabangnya (sejarah, sastra, dll), maka dari itu humanities
menjadi ilmu kemanusiaan dan kebudayaan
Pengertian
Kesusantraan
Secara etimologi
(menurut asal-usul kata) kesusastraan berarti karangan yang indah. “sastra”
(dari bahasa Sansekerta) artinya : tulisan, karangan. Akan tetapi sekarang
pengertian “Kesusastraan” berkembang melebihi pengertian etimologi tersebut.
Kata “Indah” amat luas maknanya. Tidak saja menjangkau pengertian-pengertian
lahiriah tapi terutama adalah pengertian-pengertian yang bersifat rohaniah.
Misalnya, bukankah pada wajah yang jelak orang masih bisa menemukan hal-hal
yang indah.
Sebuah ciptasastra
bersumber dari kenyataan-kenyataan yang hidup di dalam masyarakat
(realitas-objektif). Akan tetapi ciptasastra bukanlah hanya pengungkapan
realitas objektif itu saja. Di dalamnya diungkapkan pula nilai-nilai yang lebih
tinggi dan lebih agung dari sekedar realitas objektif. Ciptasastra bukanlah
semata tiruan daripada alam (imitation of nature) atau tiruan daripada hidup
(imitation of life) akan tetapi ia merupakan penafsiran-penafsiran tentang alam
dan kehidupan itu (interpretation of life). Sebuah ciptasastra
mengungkapkan tentang masalah-masalah manusia dan kemanusian. Tentang makna
hidup dan kehidupan. Ia melukiskan penderitaan-penderitaan manusia,
perjuangannya, kasih sayang dan kebencian, nafsu dan segala yang dialami
manusia. Dengan ciptasastra pengarang mau menampilkan nilai-nilai yang lebih
tinggi dan lebih agung. Mau menafsirkan tentang makna hidup dan hakekat
kehidupan.
Semuanya diungkapkan
melalui bahasa sebagai media. Dengan demikian di dalam kesustraan ada beberapa
faktor yang menjadi bahan pertimbangan. Yaitu faktor-faktor : Persoalan yang
diungkapkan, keindahan pengungkapan dan faktor bahasa ataukata. Dalam
kesusastraan Indonesia, yang dimaksudkan adalah pengungkapan
persoalan-persoalan dan nilai-nilai tentang hidup (manusia dan kemanusiaan),
terutama persoalan-persoalan dan nilai-nilai lain yang berhubungan dengan
bangsa Indonesia serta diungkapkan dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai
media.
Bentuk-bentuk
Kesusastraan
Ada beberapa bentuk
kesusastraan :
1.
Puisi
2.
Cerita Rekaan (fiksi)
3.
Essay dan Kritik
4.
Drama
Hubungan
Konsep Ilmu Budaya Dasar Dalam Kesusastraan
Konsepsi ilmu budaya
dasar didalam kesusastraan memegang peranan penting karena seni ini adalah
cerminan dari nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam masyarakat sejak
lama, seni juga membuat orang yang ingin mengutarakan pendapat atupun
gagasannya menjadi mudah untuk berkomunikasi.
IBD dalam kesusastraan
dapat diartikan dalam bentuk prosa, cerita, hikayat, dan novel. Bentuk
kesusastraan tersebut dapat memberikan pengaruh positif kepada masyarakat
karena dapat memberikan wawasan tambahan, kesenangan, dan melestarikan budaya
Indonesia.
Di zaman sekarang,
sastra sudah menjadi karya seni yang begitu banyak digunakan orang sebagai
media penyaluran ekpresi mereka. contohnya antara lain : Novel, Cerita/cerpen
(tertulis/lisan), Syair, Pantun, Sandiwara/drama, Lukisan/kaligrafi, dan
lain-lain. Selain penyalur bakat dan ekpresi seni seorang manusia, sastra juga
berfungsi sebagai suatu teknik berkomunikasi antara manusia yang satu dengan
manusia yang lain. seperti tradisi budaya Betawi yang mewajibkan untuk
berpantun sebagai kata sambutan antar mempelai disaat mereka menikah.
Hubungan sastra dan
seni dengan ilmu budaya dasar adalah sama-sama memiliki objek yang sama yaitu
manusia. sama-sama mempelajari hubungan antar manusia melalui suatu komunikasi
yang beraneka ragam macamnya. dan bayangkan jika manusia hidup tanpa seni. jika
manusia hidup tanpa bisa menyalurkan ekspresi mereka. Jika manusia tidak bisa berkomunikasi
dengan manusia lainnya. maka akan menggangu kejiwaan atau psikologis manusia
tersebut.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa konsepsi ilmu budaya dasar dalam kesusastraan adalah pengertian Ilmu
Budaya Dasar (IBD) yang khusus dibahas dari segi kesusatraan, yaitu dari jenis
tulisaan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Contoh
Dongeng
Danau Toba
Di Sumatera Utara
terdapat danau yang sangat besar dan ditengah-tengah danau tersebut terdapat
sebuah pulau. Danau itu bernama Danau Toba sedangkan pulau ditengahnya
dinamakan Pulau Samosir. Konon danau tersebut berasal dari kutukan dewa.
Di sebuah desa di
wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin bekerja
walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari
hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk
menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang
cerah, petani itu memancing ikan di sungai.
“Mudah-mudahan hari ini
aku mendapat ikan yang besar,” gumam petani tersebut dalam hati.
Beberapa saat setelah
kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik
kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup
besar.
Ia takjub melihat warna
sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan.
Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan.
“Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia
menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Petani tersebut terkejut mendengar suara
dari ikan itu.
Karena keterkejutannya,
ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu
berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. “Bermimpikah aku?,”
gumam petani.
“Jangan takut pak, aku
juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah
menyelamatkanku dari kutukan Dewata,” kata gadis itu. “Namaku Puteri, aku tidak
keberatan untuk menjadi istrimu,” kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun
mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang
telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri
dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di
desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani
tersebut.
“Dia mungkin bidadari
yang turun dari langit,” gumam mereka.
Petani merasa sangat
bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari
nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena
ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya.
Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan
keberhasilan usaha petani.
“Aku tahu Petani itu
pasti memelihara makhluk halus! ” kata seseorang kepada temannya. Hal itu
sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung,
bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian,
kebahagiaan Petani dan istri bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang
bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka
lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi
anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran
kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan
bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera
selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia
selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar bersabar atas ulah
anak mereka.
“Ya, aku akan bersabar,
walau bagaimanapun dia itu anak kita!” kata Petani kepada istrinya.
“Syukurlah, kanda
berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik,” puji
Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran
itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu. Pada suatu hari, Putera
mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang
bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani menunggu kedatangan
anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di
lihatnya Putera sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil menjewer
kuping anaknya.
“Anak tidak tau
diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !,” umpat si Petani tanpa sadar
telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani
mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap.
Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air
yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa sekitarnya terendam
semua. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan
akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau
Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.
Pembahasan
Saran :
1. Harus
menepati janji karena disitulah seseorang dinilai sebagai seorang yang amanah.
2. Tidak
boleh membuat orang tua marah.
3. Apabila
tidak menepati janji maka akan menimbulkan masalah.
4. Orang
tua harus sabar dalam mendidik anaknya.
2.2 KETERKAITAN ANTARA KESUSASTRAAN
DENGAN PROSA
PENGERTIAN SASTRA
Kesusasteraan
pada lahiriahnya merupakan wujud dalam masyarakat manusia melalui bentuk
tulisan dan juga wujud dalam bentuk lisan. Dalam kehidupan sehari-hari, kedua bentuk
kesusasteraan tidak bisa terpisah dari kita. Misalnya, kita akan mendengar
musik yang mengandung lirik lagu yang merupakan hasil sastra. Dan kita sendiri
pula akan menggunakan berbagai peribahasa dan pepatah yang indah-indah
yang sebenarnya juga merupakan kesusasteraan.
Bentuk-bentuk kesusasteraan
Kesusasteraan
dapat dilahirkan dalam berbagai bentuk bahasa. Secara kasarnya, ia boleh
dikategorikan kepada 2 kategori yang besar menurut bentuk bahasa yang
digunakan, yakni:
1. Prosa : Merujuk kepada hasil kesusteraan
yang ditulis dalam ayat-ayat biasa, yakni dengan menggunakan tata bahasa mudah.
Biasanya ayat-ayat dalam kesusasteraan akan disusun dalam bentuk karangan.
Prosa adalah satu bentuk kesusasteraan yang lebih mudah dipahami dibandingkan
dengan puisi. Contoh bagi kesusasteraan prosa ialah: Cerpen, Novel,
Skrip drama, Esai dan sebagainya.
2. Puisi : Merujuk kepada hasil
kesusasteraan yang ditulis dengan "tidak menuruti tatabahasa". Ia sebenarnya
tidak terdiri dari ayat-ayat yang lengkap, melainkan terdiri dari frasa-frasa
yang disusun dalam bentuk barisan. Pada lazimnya, puisi merupakan bahasa yang
berirama dan apabila dibaca pembaca akan berasa rentaknya. Contoh bagi
kesusastraan puisi, yaitu : Sajak, Syair, Pantun, Gurindam, Lirik, Seloka,
Mantera dan sebagainya. Ilmu Budaya dalam Kesusastraan merupakan perpaduan
unsur seni kebudayaan dengan kehidupan manusia, dimana dalam proses
kehidupannya manusia sering kali melakukan sesuatu.
Dalam
kesusastraan dapat diperoleh berbagai gubahan yang mengungkapkan tentang nilai
budaya yang menjadi komponen penting dalam pengajaran Ilmu Budaya. Salah satu
bentuk sastra itu adalah puisi, dalam arti bahwa pembahasan puisi dalam rangka
pengajaran budaya tidak akan diarahkan pada tradisi pendidikan, pengajaran
sastra, dan apresiasinya yang murni. Puisi itu akan dipakai sebagai media dan
sekaligus sebagai sumber belajar sesuai dengan tema-tema pokok bahasa yang
terdapat pada ilmu budaya. Disamping puisi, dalam kesusastraan dikenal juga dalam
bentuk drama sebagai wujud karya fiksi yang prosais.
Budaya Yang Dihubungkan Dengan
Prosa
Istilah prosa banyak persamaanya. Kadang-kadang disebut narrative fiction, Prose Fiction atau hanya fiction saja. Dalam bahasa indonesia, prosa diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa atau alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Dalam kesusastraan Indonesia terdapat prosa lama dan prosa baru.
Istilah prosa banyak persamaanya. Kadang-kadang disebut narrative fiction, Prose Fiction atau hanya fiction saja. Dalam bahasa indonesia, prosa diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa atau alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Dalam kesusastraan Indonesia terdapat prosa lama dan prosa baru.
Pengertian Prosa
Prosa
adalah karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya baris, banyaknya suku
kata, dalam setiap baris serta tak terikat oleh irama dan rimanya seperti dalam
puisi.
Prosa
berbeda dengan puisi karena variasi ritme yang dimilikinya lebih besar serta
bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari
bahasa Latin "prosa" yang artinya "terus terang". Jenis
tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.
Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel,
ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya. Prosa kadangkala juga
disebut dengan istilah "gancaran".
Prosa dapat dibedakan berdasarkan pembabakannya, menjadi:
Prosa dapat dibedakan berdasarkan pembabakannya, menjadi:
1. Prosa
lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat.
2. Prosa
baru adalah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.
Perbedaan
antara prosa lama dan baru adalah sebagai berikut:
Prosa
lama :
1. Statis,
lamban perubahannya.
2. Istana
Sentris, bersifat kerajaan.
3. Bersifat
fantastis, bentuknya hikayat, dongeng.
4. Dipengaruhi
sastra Hindu dan Arab.
5. Tidak
ada pengarang atau anonim.
Prosa
baru :
1. Dinamis,
perubahannya cepat.
2. Rakyat
Sentris, mengambil bahan dari rakyat sekitar.
3. Realistis,
bentuknya roman, novel, cerpen, drama, kisah, dsb.
4. Dipengaruhi
sastra Barat.
5. Nama
pencipta selalu dicantumkan prosa biasanya dibagi menjadi 4 jenis : Prosa
naratif, Prosa deskriptif, Prosa eksposisi, dan Prosa argumentative
Prosa
lama
Prosa
lama adalah prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia.
Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau
kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul dan disampaikan
secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan.
Setelah
masyarakat Indonesia menjadi akrab dengan tulisan, maka karya sastra berbentuk
tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan
sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra
Indonesia mulai ada.
Contoh
Prosa Lama
Dongeng
Dongeng merupakan cerita yang banyak diwarnai peristiwa yang tidak masuk akal atau tidak mungkin terjadi. Contoh: Pangeran Buruk Rupa, Si Kancil dan Buaya
Dongeng merupakan cerita yang banyak diwarnai peristiwa yang tidak masuk akal atau tidak mungkin terjadi. Contoh: Pangeran Buruk Rupa, Si Kancil dan Buaya
Prosa
Baru
Bila
dalam prosa lama kita dibawa pada alam khayal atau santai, namun dalam prosa
baru kita dibawa pada peristiwa-peristiwa yang kita hayati dan alami tiap hari.
Contoh
Prosa Baru
Hikayat
Hikayat adalah cerita karya sastra lama yang berbentuk riwayat yang mengisahkan hal-hal di luar kenyataan yang berkembang di lingkungan istana. Contoh : Hikayat Si Miskin, Hikayat Amir, Hikayat Burung Cendrawasih, dan lain-lain.
Hikayat adalah cerita karya sastra lama yang berbentuk riwayat yang mengisahkan hal-hal di luar kenyataan yang berkembang di lingkungan istana. Contoh : Hikayat Si Miskin, Hikayat Amir, Hikayat Burung Cendrawasih, dan lain-lain.
HUBUNGAN SASTRA DAN SENI DENGAN
BUDAYA DIHUBUNGKAN DENGAN PROSA
Masalah
sastra dan seni sangat erat hubungannya dengan ilmu budaya, karena
materi-materi yang diulas oleh ilmu budaya ada yang berkaitan dengan sastra dan
seni. Budaya Indonesia sangat menunjukkan adanya sastra dan seni didalamnya.
Latar belakang ilmu budaya dalam konteks budaya, Negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :
Latar belakang ilmu budaya dalam konteks budaya, Negara, dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan masalah sebagai berikut :
1. Kenyataan
bahwa bangsa indonesia terdiri atas suku bangsa dengan segala keanekaragaman
budaya yg tercemin dalam berbagai aspek kebudayaannya, yg biasanya tidak lepas
dari ikatan-ikatan primordial, kesukaan, dan kedaerahan.
2. Proses
pembangunan yg sedang berlangsung dan terus menerus menimbulkan dampak positif
dan negatif berupa terjadinya perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya
sehingga dengan sendirinya mental manusia pun terkena pengaruhnya.
3. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi menimbulkan perubahan kondisi kehidupan mausia,
menimbulkan konflik dengan tata nilai budayanya, sehingga manusia bingung
sendiri terhadap kemajuan yg telah diciptakannya.
2.3 NILAI YANG
TERMASUK DALAM PROSA FIKSI
1.
Prosa fiksi memberikan kesenangan
Keistimewaannya pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu, dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing selama hidupnya, dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya, dan mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
Keistimewaannya pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalaminya sendiri peristiwa itu, dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing selama hidupnya, dapat mengenal tokoh-tokoh yang aneh atau asing tingkah lakunya, dan mungkin rumit perjalanan hidupnya untuk mencapai sukses.
2.
Prosa fiksi memberikan informasi
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedia.
Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedia.
3.
Prosa fiksi memberikan warisan kultural
Prosa fiksi dapat menstimulasi imajinasi dan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
Prosa fiksi dapat menstimulasi imajinasi dan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dari warisan budaya bangsa.
4.
Prosa memberikan keseimbangan wawasan
Prosa fiksi dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu; lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri; dapat memperluas dan memperdalam persepsi wawasannya tentang tokoh, hidup, dan kehidupan manusia; serta akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi kenyataan-kenyataan diluar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari pribadinya.
Prosa fiksi dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu; lebih banyak kesempatan untuk memilih respon-respon emosional atau rangsangan aksi yang mungkin sangat berbeda daripada apa yang disajikan dalam kehidupan sendiri; dapat memperluas dan memperdalam persepsi wawasannya tentang tokoh, hidup, dan kehidupan manusia; serta akan terbentuk keseimbangan wawasannya, terutama dalam menghadapi kenyataan-kenyataan diluar dirinya yang mungkin sangat berlainan dari pribadinya.
2.4 CONTOH ILMU
BUDAYA DASAR YANG TERMASUK KEDALAM FIKSI
Lima Komponen Dalam
Prosa Lama :
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur lara
Lima Komponen Dalam Prosa Baru :
1. Cerita pendek
2. Roman/ novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
1. Dongeng-dongeng
2. Hikayat
3. Sejarah
4. Epos
5. Cerita pelipur lara
Lima Komponen Dalam Prosa Baru :
1. Cerita pendek
2. Roman/ novel
3. Biografi
4. Kisah
5. Otobiografi
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ilmu Budaya Dasar adalah ilmu yang mempelajari
tentang konsep-konsep perilaku, kehidupan, tingkah laku yang berkaitan dengan
manusia. Dalam hal ini, ilmu budaya dasar tidak bisa dipisahkan dari manusia.
Ilmu budaya dasar lambat laun telah menyelidi jauh tentang manusia sehingga
menimbulkan keterkaitan dengan kesusastraan. Kesusastraan sendiri merupakan
penguraian atas masalah konflik-konflik yang berkaitan dengan keindahan.
Kesusastraan sendiri berawal dari lisan, melalui cerita-cerita yang diceritakan
oleh rakyat. Tetapi lama-kelamaan kesusastraan berkembang menjadi dalam bentuk
tulisan. Tulisan tersebut yang akhirnya berkaitan dengan ilmu budaya dasar dari
segi lisan hingga dalam bentuk tulisan. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan
dan teknologi pada zaman sekarang, maka tak dapat dipungkiri bahwa ilmu budaya
dasar dengan kesusastraan sangat berperan penting bagi keduanya. Yaitu
dilahirkannya bentuk-bentuk baru ilmu budaya dasar kedalam bentuk kesusastraan,
seperti Prosa lama, Prosa baru, Hikayat, Dongeng, Cerita Rakyat, dan lain-lain.
Ciptaan tersebut tak lain merupakan
hasil penggabungan antara keduanya. Ciptaan tersebut juga mengandung
nilai-nilai penting bagi manusia dalam berperilaku sehari-sehari agar manusia
tidak mengikuti perilaku atau pun tingkah laku yang terdapat dalam
cerita-cerita tersebut.
http://septiani33.blogspot.co.id/2013/11/blog-post.html
Komentar
Posting Komentar